Welcome :)

Fan Fiction. Music. Rebellion. Interest. Lovey Dovey. Secrets. Happiness. Harmony. Review. Trash. Stories. Heart to Heart. Talks. K-Pop.

Selasa, 14 Juni 2011

SongFic – Back To December

FF ini pernah di post di FFAmatir saat saya masih jadi author freelance di sana. Happy reading pals, saya harap yg sudah baca untuk leave comment :)

Cast : Krystal f(X), Minho SHINee
Genre : Alternative Universe, Songfic, Sad Romance
Rating : T
Length : 3.640 words , Oneshot

I'm so glad you made time to see me
How's life? Tell me, how's your family?
I haven't seen them in a while
You've been good, busier than ever
We small talk, work and the weather
Your guard is up, and I know why

Krystal’s POV (this whole story)
Aku memutus sambungan telepon setelah lama aku memegang gagang telepon dingin itu. Walaupun sambungan terputus, aku masih menempelkannya di telingaku. Aku baru saja menelpon seorang namja bernama Choi Minho. Setelah setahun lebih aku tidak bertemu dengannya, akhirnya aku menelponnya dan mengajaknya untuk bertemu. Tepatnya, aku meninggalkannya.

Aku sangat senang Minho setuju untuk menemuiku. Setelah semua perlakuanku terhadapnya. Dan aku selalu sedih kalau mengingat sosok Minho, mantan namjachingu ku itu. Aku akan bertemu dengannya akhir minggu ini.
@Weekend
Aku menunggu Choi Minho di pinggir sungai Han. Hari sudah sore dan mentari segera tenggelam. Aku ingat, tadi sebelum kemari, aku kebingungan memilih baju apa yang pantas untuk menemui Minho. Dan akhirnya, aku memilih baju yang sesuai dengan gayaku. Short biru dan hoodie putih. Juga sneakers. Style yang sangat disukai Minho Oppa. Ya, aku selalu memanggil Minho, Minho Oppa. Katanya dia senang mendengarkan kata itu dari bibirku. Aku merapikan rambutku sekali lagi. Kulirik jam tanganku, lima menit menuju waktu yang kami sepakati. Apa Minho Oppa masih tepat waktu seperti dulu?
“Annyeong, Krystal-ah,” aku menoleh dan mendapati Minho Oppa sudah berada di belakangku dengan senyuman yang sangat kukenali.
“Annyeonghaseyo, Oppa,” aku membungkuk sekilas dan tersenyum.
“Apa kau sudah lama menungguku?” Minho Oppa bertanya padaku. Omo, dia masih saja terlihat tampan.
“Aniyo,” aku menggeleng.
“Ayo kita duduk di sana,” Minho Oppa menunjuk sebuah bangku di tepi jogging track. Aku mengangguk dan mengikutinya.
Begitu sampai di bangku yang dimaksud Minho Oppa, aku duduk menghadap sungai Han yang indah. Minho Oppa mengambil tempat di sisiku. Kami terdiam cukup lama. Canggung. Karena setelah sekian lama kami baru bertemu sekarang. Jujur, aku sangat senang dia masih bisa menyempatkan diri untuk menemuiku atau paling tidak masih mau bertemu denganku.
“Lalu, Krystal, kenapa kau ingin menemuiku?” dia bertanya padaku. Eothokke? Aku harus menjawab apa?
“Aku hanya ingin bertemu denganmu, Oppa,” aku menjawab seadanya. Kulihat dia mengangguk. “Minho Oppa, bagaimana kabarmu? Kehidupanmu?” aku sangat ingin tahu.
“Aku baik-baik saja. Dan kau tahu, aku sekarang lebih sibuk dari yang sekedar kubayangkan dulu sebelum aku masuk universitas*ceritanya Minho dan Krystal itu anak kuliahan*. Aku banyak mengambil kerja paruh waktu. Lebih tepatnya, aku menyibukkan diri, Krystal,” Minho Oppa berbicara. Sebenarnya kerja paruh waktu yang dimaksud itu adalah menjadi model dan penyanyi yang tergabung dalam boy band SHINee.
“Lalu, bagaimana dengan keluargamu, Oppa? Aku ingin tahu karena aku sudah lama tidak bertemu mereka.”
“Mereka baik-baik saja. Siwon Hyung akan segera bertunangan dengan Yoona Noona. Appa dan Ummaku baru saja membuka restoran baru keluarga kami. Sulli baik-baik saja, keadaannya semakin membaik akhir-akhir ini.”
Sulli? Adik Minho Oppa sekaligus sahabatku. Aku merindukannya, sudah lama aku tak bertemu dengannya. Dua tahun terakhir, Sulli menjalani perawatan leukemia di luar negeri. Sulli ditemani oleh Sooyoung Eonnie, kakak Minho Oppa dan Sulli. Sulli tidak tahu apa yang terjadi diantara aku dan Minho sampai kami berpisah. Andai Sulli tahu, dia tidak akan pernah memaafkanku.
“Lalu bagaimana kehidupanu Krystal?” suara Minho Oppa membuyarkan lamunanku.
“Aku? Aku sibuk dengan kuliahku tentu saja. Dan akhir-akhir ini aku disibukkan oleh pekerjaanku membantu Jessica Eonnie dengan pakaian-pakaian itu,” aku menunduk. “Minho Oppa, bagaimana menurutmu cuaca hari ini? Lihatlah, betapa cantiknya langit saat matahari tenggelam.”
“Menurutku, hari ini cerah tapi agak sedikit dingin. Bekas yang ditinggalkan oleh musim dingin belum hilang. Tapi kali ini sunset tidak oranye seperti yang kau suka, agak lebih merah. Apa kau masih menyukai sunset?”
“Aku mencintai sunset sepanjang hidupku,” aku menggangguk dan menatapnya.
“Kau masih sama, Krystal,” Minho Oppa berkata pelan.
Ya, aku akan tetap sama, Oppa. Aku berkata dalam hati. Perasaanku terhadapmu sama sekali tidak berubah. Aku menyadari bahwa kini ada tembok di antara Minho Oppa dan aku. Minho Oppa tidak seterbuka dulu lagi. Dan aku sadar kalau Minho Oppa lebih membatasi dirinya. Kenyataannya dia tidak memandangku dengan cara yang sama seperti dulu. Dan dia juga enggan menyinggung hal pribadinya maupun hal pribadiku. Aku tahu pasti sikap Oppa akan seperti ini. Membetengi diri dan menjadi tertutup seperti saat kami belum menjadi sepasang kekasih. Dan aku tahu mengapa dia seperti ini.
***

Because the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind
You gave me roses, and I left them there to die

Terakhir kali aku dan Minho Oppa bertemu adalah saat aku meninggalkannya. Malam itu kencan hari ke-200 kami. Dan aku mencintai Minho Oppa selama aku mengenalnya.
[Flashback]
Hari ini aku dan Minho Oppa akan berkencan untuk merayakan hari ke-200 kami sebagai pasangan. Aku sudah mengenal Minho Oppa sama lamanya aku mengenal Sulli. Sulli selalu bercerita kalau Minho Oppa sangat mengagumiku. Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa yang Minho Oppa lihat dariku. Aku kan hanya gadis biasa. Sementara Minho Oppa adalah orang yang menurutku sangat sempurna. Dan aku tidak pantas bersanding dengannya.
Aku memandang pantulan diriku di cermin. Aku tidak secantik Sulli atau semenawan Victoria Eonnie. Aku juga tidak sekeren Amber Eonnie atau memiliki suara seindah Luna Eonnie. Apa yang dilihat Minho Oppa dari yeoja sepertiku? Bahkan aku tidak ada apa-apanya dibanding Jessica Eonnie. Selama ini aku tidak pernah peduli kalau kenyataannya banyak yang tidak menyukai hubungan kami, terutama para Flames. Kata mereka, aku terlalu muda untuk Minho Oppa. Aku tidak sebanding dengan Minho Oppa dan sebagainya. Sampai hari ini.
“Krystal-ah, apa kau sudah selesai?” Jessica Eonnie muncul di balik pintu. Eonnie yang akan mengantarku karena Eonnie juga akan pergi ke suatu tempat.
“Neh, Eonnie,” aku menoleh dan menyambar tasku lalu berjalan keluar kamar.
Few times later,
Minho Oppa benar-benar mempersiapkan malam ini. Bisa-bisanya dia mempersiapkan candle light dinner di tempat seperti ini. Di atap 63 Building. Aku tidak heran, Minho Oppa kaya raya sih. Benar-benar namja ideal. Bagaimana bisa Minho Oppa menyempatkan diri untuk mempersiapkan semua ini? Dia kan idol yang sibuk.
“Krystal-ah, kau sangat cantik malam ini,” kata Minho Oppa saat aku duduk di kursiku.
“Gomawo, Oppa,” aku tersenyum.
“Kau suka semua ini kan?” wajah Minho Oppa dihiasi senyum yang sangat manis.
“Neh, Oppa. Chincha johaeyo,” aku mengangguk senang. Semua ini indah sekali. Aku bahagia. Tapi kenapa aku disergap perasaan seperti ini. Perasaan terbebani yang tidak pernah kurasakan.
“Chincha?” Minho Oppa meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku jadi tidak tega kalau Minho Oppa tahu kegelisahanku.
“Neh,” aku membalas genggamannya. Berusaha meyakinkannya.
“Jagiya, aku punya sesuatu untukmu. Tunggu ya?” Minho Oppa berkata lembut seraya berdiri hendak meninggalkanku.
Aku menatap Minho Oppa dengan pandangan bertanya dan mengangguk. Aku melihat Minho Oppa menghilang di balik pintu menuju tangga. Lalu aku memandang pemandangan Seoul di malam hari. Cantik sekali. Lampu-lampu itu begitu benderang dan….
“Krystal-ah, ini untukmu,” tiba-tiba ada sebuket mawar merah di depanku sementara Minho Oppa di belakangku. Memelukku dari belakang.
“Ah, gomawo, oppa,” aku mengambil buket mawar itu dari tangan Minho Oppa dan menghirup wanginya. Sementara itu, Minho Oppa memelukku makin kuat. Rasanya hangat sekali.
“Aku tahu kau pasti akan menyukainya,” bisik Minho Oppa. Aku bisa merasakan kalau dia meciumi puncak kepalaku.
“Oppa…,” lirih aku berkata. Tak tahu harus berkata apa lagi.
Tak lama kemudian Minho Oppa kembali ke kursinya yang ada di hadapanku. Lalu para pelayan datang silih berganti menyajikan makan malam. Dari mulai appetizer sampai desert semuanya sangat lezat. Apalagi datang juga teman-teman Minho Oppa, Onew Oppa dan Jonghyun Oppa. Mereka menyanyikan lagu-lagu romantis sementara kami menikmati dinner kami. Aku baru tahu kalau Onew Oppa sangat mahir bermain piano. Di saat-saat seperti ini pasti banyak gadis yang sangat iri denganku.
“Oppa,” aku memanggil Minho Oppa begitu dessert sudah selesai dan pelayan mengisi gelas sampanye kami lagi.
“Mwo?” Minho Oppa menoleh ke arahku. Sebelumnya dia memperhatikan lampu kota Seoul dari sini.
“Oppa, sepertinya aku… sepertinya aku harus pergi,” aku menahan napasku saat mengatakannya. Tidak sanggup melihat ekspresi Minho Oppa.
“Wae? Kau tidak serius kan?” Minho Oppa terlihat tidak percaya.
“Iya Oppa, aku harus pergi. Dan mungkin aku tidak akan bertemu Oppa lagi,” aku menunduk.
“Apa maksudmu Krystal? Setelah semua ini? Selama ini? Jelaskan padaku, aku tidak mengerti!”
“Oppa, aku tidak bisa lagi bersamamu. Aku hanya… tidak bisa. Begitu berat, Oppa, untuk berada di sisimu.”
“Apa itu, Krystal? Aku yakin kau pasti bercanda?” oh, Minho Oppa terlihat marah sekaligus… terluka.
“Aku tidak bercanda, Oppa,” aku berdiri lalu meraih tasku.
“Krystal… aku tidak mengerti,” Minho Oppa juga berdiri untuk mencegahku pergi.
“Kurasa aku memang harus pergi,” aku melangkah menjauh, “Anyyeonghigaseyo, Minho Oppa,” aku menatapnya untuk yang terakhir kali sebelum berbalik dan tidak pernah menoleh lagi.
“Krystal! Kajima!” kudengar suara Minho Oppa memanggilku saat aku sampai di pintu, ”Jebal…, kajimarayo,” kalimat itu yang terakhir kudengar saat menyusuri tangga untuk turun.
Air mataku menetes saat aku berjalan pergi. Aku mau pulang. Aku sudah menyakiti Minho Oppa. Bahkan aku tidak membawa pergi mawar darinya. Mianhae, Oppa, aku hanya tidak tahan dengan kesibukan dan para fansmu. Aku menjerit dalam hati. Kenapa aku tidak mengatakan padanya alasanku?
Aku menelpon Jessica Eonnie untuk menjemputku. Aku mengusap air mataku, tidak boleh terlihat habis menangis. Yang jelas, aku sedih sekali. Aku ingat kalau aku tidak membawa mawar dari Minho Oppa bersamaku. Aku meninggalkan mereka untuk layu perlahan.
[Flashback End]
Malam itulah, malam di mana aku meninggalkannya. Malam di musim dingin yang beku. Malam di pertengahan bulan Desember. Sejak saat itu dia tidak pernah melihatku lagi.
Sekarang Minho Oppa duduk di sisiku. Dan aku bisa mengatakan semua yang ingin aku katakan. Itulah tujuanku untuk menemuinya.
***

So this is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I'm sorry for that night
And I go back to December all the time
It turns out freedom ain't nothing but missing you
Wishing I'd realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
I go back to December all the time


Lalu, disinilah aku sekarang. Duduk di sebelah Minho Oppa dan terdiam karena tidak tahu harus berbicara apa lagi padanya. Aku selalu ingat peristiwa di Desember malam itu. Dan perasaan bersalah selalu merayap di jiwaku semenjak hal itu terjadi.
Aku menarik napas panjang dan berdiri. Minho Oppa kaget dengan gerakku yang tiba-tiba. Aku berdiri dihadapannya dan menghadap ke arahnya.
“Minho Oppa,” aku berkata lumayan keras sambil menarik napas, “Jesungimnida. Jeongmal jesungimnida,” aku menelan semua harga diriku, “Mianhae Oppa, untuk malam itu. Malam dimana kau merasa dicampakkan. Jeongmal Mianhae, Oppa,” aku mengakhirnya dengan menunduk 90 derajat.
“Krystal…,” Minho Oppa terpaku di tempatnya. Dia hanya diam sambil memandangku dengan pandangan itu. Matanya menyiratkan luka. Aku tahu dia pasti tidak akan suka kalau aku menyinggung-nyinggung malam itu.
“Aku tahu, Oppa, kalau aku menyakitimu. Tapi sejak malam itu, aku selalu merindukanmu. Dan semakin hari aku sadar kalau aku tidak mensyukuri dan menghargai apa yang aku punya saat Oppa masih bersamaku. Aku selalu mengingat malam itu. Aku selalu berharap bisa kembali di Desember itu dan memperbaiki semuanya. Aku selalu berharap bisa kembali ke bulan Desember di mana aku meninggalkanmu, Oppa. Aku tidak bisa menghilangkan rasa bersalahku terhadapmu. Oppa, jeongmal mianhe….”
***

These days, I haven't been sleeping
Staying up, playing back myself leaving
When your birthday passed, and I didn't call
Then I think about summer, all the beautiful times
I watched you laughing from the passenger side
And realized I loved you in the fall


Malam itu aku tidak tidur, malam saat aku meninggalkan Minho Oppa. Begitu juga hari-hari setelahnya aku mengalami susah tidur sampai aku pernah tidak tidur selama beberapa malam. Semua itu karena aku selalu mengingat saat aku pergi meninggalkan Minho Oppa. Namun begitu waktu berjalan, rasa bersalahku padanya sama sekali tidak terkikis. Aku selalu memikirkan Minho Oppa. Aku juga sadar kalau sebenarnya sebelah hatiku tidak ingin meninggalkan Minho Oppa.
Saat ulang tahun Minho Oppa tiba pun aku tidak menghubunginya dan memberinya selamat. Aku tidak yakin apa Minho Oppa cukup berbesar hati untuk memaafkanku. Aku tidak bisa melupakan kenyataan kalau aku telah mengecewakan Minho Oppa.
Lalu aku mengingat hari-hari yang telah aku lewatkan bersama Minho Oppa. Aku tidak bisa melupakannya. Waktu-waktu yang kulalui dengan Minho Oppa adalah saat-saat terindah yang ada di kehidupanku.
Aku sangat menyukai musim panas karena di musim panas, banyak terjadi hal-hal indah antara diriku dan Minho Oppa. Di musim panas empat tahun lalu, aku menghabiskan banyak waktu dengan Minho Oppa. Di musim panas itu aku sering mengunjungi rumah Sulli karena Jessica Eonnie sedang mengunjungi Umma dan Appa di Amerika. Jadi di musim panas itu aku selalu ditemani oleh Minho Oppa dan tawanya yang indah. Aku ingat betul kalau di musim panas itu Minho Oppa benar-benar membuatku bahagia dan tidak merasa kesepian. Kami pergi ke pantai bersama, melakukan camping, dan berbagai kegiatan musim panas lainnya.
Setelah musim panas itu, aku dan Minho Oppa menjadi semakin dekat. Dia selalu memperlakukanku dengan baik dan selalu bisa membuatku bahagia. Aku selalu tahu kalau aku menganggumi Minho Oppa sejak pertama kali bertemu dengannya. Tapi setelah musim panas itu berakhir dan digantikan musim gugur, aku menyadari kalau aku sudah mencintai Minho Oppa sejak lama.
***

And then the cold came, the dark days
When fear crept into my mind
You gave me all your love, and all I gave you was goodbye


Setelah aku menjadi yeojachingu Minho Oppa selama 200 hari, kenapa aku harus menyerah? Aku rasa hal itu karena desakan perasaanku sendiri yang ingin bebas dari tekanan yang diberikan oleh banyak pihak. Semua orang tahu kalau aku orang yang tidak mudah berpaling. Sampai-sampai Jessica Eonnie menyangsikan keputusanku untuk meninggalkan Minho Oppa. Karena Jessica Eonnie tahu betul kalau aku sangat menyayangi Minho Oppa.
Hari-hari musim panas digantikan oleh musim gugur yang berangin. Lalu musim gugur yang berwarna-warni digantikan oleh dinginnya musim dingin. Sepanjang Desember itu hari-hariku berubah menjadi gelap. Sebelum meninggalkan Minho Oppa aku sangat gelisah. Kemanapun aku pergi, ketakutan selalu membayangiku.
Aku takut akan banyak hal. Mengingat akan profesi Minho Oppa yang membuatnya banyak bertemu yeoja lain. Mengetahui kenyataan bahwa ada sebagian kecil Flames yang menentang hubungan kami, walaupun kebanyakan Flames sangat baik dan mendukung hubungan kami. Aku takut kalau saja Minho Oppa bosan denganku.
Minho Oppa sangat mencintaiku dulu, aku tahu itu. Minho Oppa telah memberikan seluruh cintanya untukku, tapi apa yang telah kuberikan untuknya? Salam perpisahan.
***

So this is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I'm sorry for that night
And I go back to December all the time
It turns out freedom ain't nothing but missing you
Wishing I'd realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and change my own mind
I go back to December all the time


“Jeongmal mianhae, Oppa,” kataku lagi. Aku sudah berdiri di hadapannya sekitar sepuluh menit dan dia belum memberi tanggapan apapun. Aku sadar kalau langit telah sepenuhnya gelap. Lalu aku melihat Minho Oppa berdiri dan melangkah mendekat padaku.
Dia memegang bahuku dan berkata, “Gwaenchana, Krystal.”
“Aniyo,” aku menggeleng, “Aku sudah keterlaluan.”
Dia menunduk untuk menyejajarkan wajahnya dengan wajahku. “Krystal, lihatlah kalau aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa Krystal.”
Melihatnya seperti itu, air mataku meleleh. “Aku selalu ingin kembali ke Desember itu, berubah pikiran, dan tidak jadi meninggalkanmu. Lalu aku tidak akan pernah merasa sebersalah ini.”
“Uljimara,” Minho Oppa berkata pelan dan menghapus air mataku dengan ibu jarinya, “Kau hanya tidak sadar dengan apa yang kau miliki selama aku menjadi milikmu.”
“Aku harap bisa kembali dan mengubah semuanya. Oppa, aku kehilanganmu…,” aku menunduk. Tidak sanggup menatap Minho Oppa.
***

I miss your tan skin, your sweet smile
So good to me, so right
And how you held me in your arms that September night
The first time you ever saw me cry


Selama ini aku merindukan segala yang ada pada diri Minho Oppa. Terutama senyumnya. Senyum yang selalu bisa membuatku tenang dan merasa lebih baik. Segalanya terasa baik dan lengkap setiap kali Minho Oppa berada di sisiku. Aku juga merindukan saat-saat dimana Minho Oppa mencoba untuk membuatku tenang ketika aku bersedih. Minho Oppa adalah namjachingu yang baik
[Flashback]
September 2 years ago
Aku baru merasakan kalau tinggal jauh dari orang tua itu sangat berat beberapa hari terakhir. Akhir-akhir ini Jessica Eonnie sangat sibuk dengan karirnya sehingga aku lebih banyak sendirian di rumah. Aku sering sekali tiba-tiba merindukan Umma dan Appa. Aku sangat ingin bertemu dengan mereka dan melakukan banyak hal. Apalagi sebentar lagi Appa ku ulang tahun. Ingin rasanya dekat dengan mereka.
Malam ini aku bosan di rumah. Lalu aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman dekat rumahku. Aku mengenakan syalku karena malam ini kebetulan sangat dingin. Sudah beberapa lama aku berjalan tanpa tentu arah. Dirasa-rasa capek juga. Lalu aku melihat ayunan tak jauh dariku dan tiba-tiba saja aku ingin duduk di sana. Akhirnya aku menghampiri ayunan itu.
Aku meraih pegangan ayunan lalu duduk diatas permukaan ayunan yang dingin. Aku diam sejenak lalu bermain dengan ayunan, meluncur ke depan dan belakang. Tiba-tiba perasaan yang selama ini menggangguku menyeruak ke permukaan. Aku kepikiran akan keluargaku lagi. Lalu perlahan namun pasti air mataku jatuh. Akhirnya aku menangis setelah sekian lama tidak menangis. Mau bagaimana lagi? Sekarang aku sangat sedih.
“Krystal? Itu kau?” terdengar suara dari belakangku. Aku menghapus air mataku dengan punggung tanganku lalu menoleh. Minho Oppa. Namja yang amat kukagumi itu berdiri di sana. Di jalan setapak yang ada tak jauh dariku.
“Oppa?” aku mengerjap-erjapkan mata.
“Aku tadi mendengar suara yeoja yang sedang menangis lalu yang kutahu asal suaranya dari sini. Apa kau baik-baik saja?” Minho Oppa menghampiriku dan berdiri di hadapanku. Mwo? Apa aku tadi memang menangis dengan keras sampai ada yang mendengarku?
“Neh, Oppa. Aku baik saja,” aku memaksakan seulas senyum.
“Aniyo. Kau tidak baik-baik saja. Lihat itu, ingusmu kemana-mana dan matamu sembab. Ada apa denganmu, Kyrstal?” Minho Oppa berjongkok agar wajah kami sejajar dan dia bisa melihatku dengan jelas. Dia terlihat khawatir.
Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak bisa menjawab pertanyannya. Aku terlalu sedih. Ditambah lagi sekarang Minho Oppa melihatku menangis. Ini pertama kalinya Minho Oppa melihatku menangis. Dan aku merasa semakin buruk saja. Lalu yang bisa kulakukan hanyalah menangis. Lebih keras dari yang sebelumnya.
“Krystal, aku tidak bermaksud,” Minho Oppa terdengar panik. “Mianhae,” aku merasakan lengannya melingkar di tubuhku. Dia memelukku. Omo, Minho Oppa memelukku! Untuk yang pertama kali! Sebagian hatiku merasa senang. Tapi aku masih belum bisa menghentikan tangisku. Aku masih merasa sedih.
Lalu Minho Oppa merapatkan pelukannya dan berusaha menenangkanku. Dia membisikkan kata-kata untuk membuatku tenang. Dan akhirnya sisa malam ini, Minho Oppa menemaniku untuk mengusir kesedihanku.
[Flashback End]
***

Maybe this is wishful thinking
Probably mindless dreaming
But if we loved again, I swear I'd love you right
I'd go back in time and change it, but I can't
So if the chain is on your door, I understand


Aku masih menunduk sementara Minho Oppa berdiri di hadapanku dan memengangi bahuku. Ya Tuhan, aku menangis lagi. Mengapa segala sesuatu yang menyangkut Minho Oppa selalu membuatku lemah?
“Oppa, aku tidak tahu harus bagaimana,” kataku disela tangisku. Suaraku terdengar mengerikan di telingaku sendiri.
“Gwaenchana,” Minho Oppa berkata pelan. Aku terkejut karena dia menarikku ke dalam pelukannya. Oppa, kenapa kau selalu baik padaku? Aku bertanya-tanya dalam hati. “Sudahlah, Krystal. Awalnya aku tidak mengerti kenapa kau meninggalkanku. Aku selalu bertanya-tanya apa salahku dan apa saja yang belum aku lakukan. Sampai sekarang pun aku masih belum mengerti.”
“Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku meninggalkanmu, Oppa. Kesalahan sepenuhnya ada padaku. Aku terlalu gegabah dalam mengambil keputusan dan selalu mengutamakan perasaanku. Mianhae Oppa.”
Baik Minho Oppa maupun aku terdiam. Aku tidak berusaha menghapus air mataku, karena Sulli pernah berkata kalau aku ingin menangis, menangis saja daripada hanya akan jadi beban. Minho Oppa hanya memelukku. Aku juga rindu bagaimana rasanya berada di dalam dekapan Minho Oppa. Kurasakan tangan Minho Oppa mengelus punggungku, seperti yang sering dilakukannya dulu.
“Minho Oppa,” aku mulai membuka suaraku lagi. “Mungkin ini pemikiran yang penuh harap dan mimpi yang bodoh, tapi kalau kau bisa mencintaiku lagi aku bersumpah akan mencintaimu dengan benar.”
Minho Oppa merenggangkan pelukannya. Dia melepaskanku dan hanya menatapku. Apa perkataanku salah? Aku mengerti kalau tanggapannya pasti tidak akan sama seperti dulu.
“Bagaimanapun aku tidak bisa kembali lagi ke masa itu dan memperbaikinya walaupun aku sangat ingin. Tapi kalau Oppa tidak bisa menerimaku lagi, aku mengerti.”
***

This is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I'm sorry for that night
And I go back to December
It turns out freedom ain't nothing but missing you
Wishing I'd realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
I go back to December, turn around and change my own mind
I go back to December all the time, all the time


Setelah lama terdiam, Minho Oppa meraih kedua tanganku lalu berkata, “Krystal, apa yang sudah terjadi di antara kita, anggap saja itu suatu pelajaran yang bisa membuatmu lebih bijaksana. Dulu kukira aku sudah sangat mengerti kamu, tapi ternyata tidak. Setiap orang pasti punya sisi yang sama sekali tidak bisa dimasuki orang lain. Kau tidak perlu terus-terusan minta maaf. Karena aku sudah memaafkanmu sejak lama, saat aku tahu kau meninggalkanku bukan karena namja lain. Aku senang kau sudah bisa berpikir lebih dewasa sekarang.”
“Kamsahamnida, Oppa, karena sudah memaafkanku. Tapi Oppa, maukah kau menjadi temanku? Aku ingin memperbaiki semuanya, bukan sebagai yeojachingu mu melainkan sebagai chingu mu. Bisakah, Oppa?” aku mengusap air mataku dengan tissue yang tadinya ada di tasku.
“Aku rasa itu yang terbaik, Krystal. Mengingat perasaanku padamu tidak akan pernah sama lagi,” Minho Oppa berkata sambil tersenyum.
“Neh, araso. Kamsahamnida, Oppa,” aku membalas tersenyum pada Minho Oppa.
“Ne cheonmaneo. Apa kau merasa lebih baik?” Minho Oppa mengacak-acak rambutku.
“Neh,” aku tertawa sambil memperbaiki rambutku yang dikacaukan oleh Minho Oppa.
“Krystal-ah, ayo makan! Aku sudah lapar dari tadi,” Minho Oppa mulai berjalan meninggalkanku.
“Oppa, tunggu aku!” aku setengah berlari menyusul Minho Oppa yang sudah agak jauh dariku.
Oppa, aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku berjanji.
>>>>>>>>THE END<<<<<<<<

Tidak ada komentar:

Posting Komentar