Mr. Perfect, Aku Pengagum Bertopengmu.
Kau sempurna dengan sikap pendiammu. Kau menawan dengan senyuman unik nan manis di wajahmu. Kau tampan dengan segala bahasa tubuhmu yang cool. Kau menarik dengan kepribadianmu. Kau mengagumkan dengan segala kekuranganmu yang belum aku tahu.
Dan… inilah aku. Seorang pengagum rahasia. Pengagum rahasia yang tulus dalam menyayangimu. Kau boleh anggap kalau aku ini klise. Tapi ingin kuungkapkan apa-apa yang kurasa padamu lewat tulisan ini meski aku tahu kau tidak akan pernah membacanya.
Pertama kali tertangkap mataku, kau ini seorang pemuda dengan tubuh tinggi dan kurus yang juga sekelas denganku. Awal-awal orientasi sekolah dan seterusnya, aku tidak pernah memperhatikanmu. Hanya tahu kau ini teman sekelasku yang pendiam. Dan kukira kau adalah seorang gadis karena mengetahui namamu yang menyerupai nama gadis.
Aku mulai memperhatikanmu ketika perjalanan kemah. Saat kita di truk yang sama. Kau dan sebagian siswa laki-laki duduk di bawah membiarkan para siswa perempuan duduk di bangku. Kau menyadari kalau memang itu kewajiban laki-laki, melindungi perempuan. Kau duduk bukan tepat di depanku melainkan agak ke kanan, di belakang anak laki-laki yang duduk di depanku. Tak tahu kenapa saat itu pandanganku selalu jatuh padamu.
Sejak saat itu, aku mulai memperhatikanmu. Mencari-cari keberadaanmu di kelas. Aku selalu hafal dengan tulang punggungmu yang panjang, potongan rambut dan cara berpakaian selalu rapi tapi terlihat keren. Wajahmu tampan, cenderung unik. Dengan hidung yang bagus dan alis lebat. Jenis ekspresi yang tak-terdefinisi untukku. Pembawaanmu tenang, kalem, cool tapi kau bisa menjadi orang yang penuh senyuman.
Kamu selalu mengambil tempat yang menempel dinding. Membuatku mengira kalau golongan darahmu A. Karena aku juga suka duduk dekat dengan dinding. Kau jauh dari tempatku duduk. Aku selalu di pojok, sendirian dan dekat dengan stop contact. Sementara kau selalu di deret paling ujung tapi kau tidak pernah duduk di pojok. Selalu di barisan kedua dari belakang atau kedua dari depan. Dekat jendela.
Aku tidak pernah tahu kau itu siapa, sama seperti kamu tidak pernah tau aku siapa. Kita sekelas, tapi kita tidak pernah saling mengenal. Apa karena kita sama-sama antisosial? Aku bukan orang yang antisosial tapi aku memang menutup diri. Aku selalu menganggap kamu antisosial, maaf ya. Kamu sama sekali tidak ekspresif. Misterius.
Kau canggung. Tidak pintar berakting. Aku sangat senang waktu tahu kalau kita berada di kelompok yang sama pada tugas film bahasa Inggris. Kau dapat peran utama dan aku seperti biasa, script writer. Ku buat script yang lucu dan konyol sesuai dengan temanya, komedi. Tapi ternyata kau tidak bisa bertingkah konyol. Jaga image banget, deh. Tapi ternyata kau memang pendiam dan emotionless.
Saat aku malas-malasan di pelajaran eksak, tidak mencatat apapun di buku tulisku, aku memperhatikanmu dari tempatku duduk. Aku kaget saat tahu kamu dengan rajin mencatat apa yang ada di papan tulis. Tidak hanya pelajaran eksak, tapi semua mata pelajaran kamu memperhatikan dan rajin mencatat. Aku kagum dengan rasa tanggung jawabmu itu.
Kita sering sekali memakai kostum dengan warna yang sama dalam suatu event. Seperti pada saat buka bersama, aku mengenakan kaus merah, kau juga memakai kaus berwarna merah. Saat pentas seni sekolah kau memakai kaus putih, aku juga. Dan pada latihan senam untuk kemah akhir tahun, kita sama-sama memakai kaus merah. Dan terakhir kali pada saat buka bersama di awal kelas XI kita sama-sama memakai sweater hitam(sebenarnya ini tidak perlu dihitung karena hampir sekelas memakai sweater itu). Seringnya kita sama-sama memakai pakaian berwarna putih.
Kau jarang mengajakku bicara. Begitu juga sebaliknya. Aku terlalu takut kalau perasaanku padamu tergambar jelas di matamu. Aku tahu nomor ponselmu tapi aku tidak pernah mengetik SMS selain saat kita mengerjakan film. Aku kegirangan saat kau membalas SMS ku yang satu itu. Walau hanya dua kata yang singkat ditambah tanda titik, itu sangat berarti untukku. Bagiku, bisa mengobrol denganmu lebih dari satu jam saja merupakan keajaiban.
Momen paling indah adalah saat kita pergi ke Tlatar bersama teman-teman sekelas dan aku menumpang motormu. Sepanjang perjalanan kita hanya diam. Baik kau dan aku sama-sama tidak pandai bicara. Yah, indah sekaligus canggung. Dan karena itulah perasaanku bisa seperti sekarang. Padahal aku tahu, itu sebenarnya perpisahan kita. Kita tidak akan sekelas lagi, kita masuk ke jurusan yang berbeda.
Walaupun begitu aku selalu saja berusaha untuk bisa melihatmu. Setiap lewat kelasmu aku selalu curi-curi pandang agar bisa melihatmu dan tahu dimana kamu duduk. Setahun ini kulakukan tapi sampai sekarang aku tidak tahu dimana persisnya kamu duduk. Dan di tahun ini kita punya jadwal olahraga yang sama. Aku selalu memperhatikanmu selama jam olahraga. Walau kau tidak punya tingkah konyol untuk ditertawakan, tapi kau punya karisma yang membuatku mengulum senyum. Sampai-sampai aku dibilang orang gila karena senyum-senyum sendiri sepanjang pelajaran olehraga.
Tahukah kau selama ini aku hanya menjadi stalker mu. Aku sering membuka akun Facebookmu dan mengecek apa-apa yang baru. Selama ini kaulah yang kusebut ‘Mr. Unyuu’ atau ‘cowo paling unyuu sedunia’. Ya, aku tahu aku ini aneh. Tapi bagaimana lagi, I’m dying for this feeling. Sampai aku kegirangan setengah mati kalau bertemu kamu di tempat les dan sampai aku kecewa setengah mati kalau aku tidak melihatmu sehari saja padahal kita ada di tempat yang sama.
Katakanlah aku bodoh atau semacamnya, karena aku memang bodoh. Kau yang membuatku bodoh. Aku tidak tahu cara untuk mendekatimu, menarik perhatianmu dan semacamnya. Yang aku tahu, aku menyayangimu dari jauh. Mengagumimu dibalik topengku.
Alasanku untuk menulis, terus menulis dan menghasilkan sesuatu yang bisa kau baca suatu saat dan kau tahu kalau kau yang membangkitkan kepercayaan diriku untuk terus menulis. Apa sih yang kubisa? Merangkai kata menjadi kesatuan yang utuh, perasaan, tak lebih. Karena kamu, aku tahu apa itu menulis dengan rasa. Karena hanya dengan menulis, menumpahkan perasaanku pada tinta pekat ini bisa membuat semua orang tahu apa yang kurasa lewat apa yang mereka baca. Setiap tulisanku tak lepas dari perasaanku padamu.
Rasa rindu, harap dan damba terhadapmu tergambar pada tulisanku. Kalau kau benar-benar mencermati tulisanku. Tulisan itulah perasaanku. Ada orang yang berkata “Untuk apa kau merindukan orang yang tidak merindukanmu? Untuk apa kau berharap pada orang yang tidak pernah mengharapkanmu? Untuk apa kau mencintai orang yang tidak pernah mencintaimu?”. Lalu kujawab saja; aku tidak pernah dirindukan, diharapkan dan dicintai. Bahkan aku tidak pernah tahu rasanya dirindukan, diharapkan dan dicintai. Jadi biarkan aku merasakan merindu, mengharap dan mencintai. Terutama kamu, stabillo pink ku tersayang. Hahaha.
Izinkan aku menjadi stalkermu. Menjadi fans terberatmu. Meski hanya pengagum rahasia, tapi rasaku ini tulus. Aku pengagum bertopengmu. Dan tulisan-tulisan itu kudedikasikan untukmu meski mustahil rasanya kau akan membacanya. Maafkan aku sudah lancang menaruh rasa suka padamu. Tapi aku selalu ingin kamu tahu kalau; aku sayang kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar