Welcome :)

Fan Fiction. Music. Rebellion. Interest. Lovey Dovey. Secrets. Happiness. Harmony. Review. Trash. Stories. Heart to Heart. Talks. K-Pop.

Selasa, 14 Juni 2011

Dariku Untuknya

Sungguh aku harus mensyukuri keberadaannya. Dia yang menganggap bahwa melindungiku merupakan sebuah kewajiban. Dia yang sebisa mungkin bisa melewatkan waktu bersamaku. Dia yang bersedia menjadi sahabatku. Dia yang melindungiku dengan cinta. Dan dia yang telah menjaga dan memperhatikanku sampai tanpa sadar dia telah memberikan cintanya untukku.
          Dia adalah Caya. Itu bukanlah nama sesungguhnya melainkan panggilan khusus dariku untuknya. Mungkin agak aneh untuk nama seorang laki-laki, tapi paling tidak maksudku tersampaikan lewat nama itu. Caya tinggal satu kompleks denganku dan kami sering menghabiskan waktu bersama karena tidak ada anak perempuan yang sebaya denganku di kompleks ini. Aku memang terlampau takut untuk bergaul dengan anak perempuan yang lebih tua.
          Pertama kali aku melihatnya adalah saat aku belum mampu melafalkan namanya dengan lancar. Ibunya memanggilnya ‘sayang’ lalu aku ikut memanggilnya ‘Sayang’ namun yang keluar dari mulutku jauh dari kata itu malah jadinya ‘Cayang’. Lalu karena kesulitan, aku memanggilnya ‘Caya’ seperti sekarang. Kami berkenalan saat ibuku mengajakku berjalan-jalan di sebuah pasar kaget yang biasanya diadakan di tanah lapang kompleks sebelah yang memang lahan kosong milik pemerintah pada hari Minggu. Aku merengek minta gula-gula kapas tapi ibuku tidak memberikannya dengan alasan tidak baik untuk gigiku. Lalu aku melihat sosok Caya yang juga merengek minta dibelikan gula-gula kapas. Ibuku berkata “Nah, lihat kan? Bukan hanya Ibu yang melarang.” Aku lupa bagaimana jadinya, ibuku dan ibunya berkenalan lalu dengan cepat mengabaikan kami yang hanya bisa duduk berdampingan di sebuah bangku yang memang diletakkan di pinggir lapangan dekat dengan tempat pedagang kue pukis favoritku mangkal. Saat itu kami hanya bisa berbagi kue pukis dan membicarakan animasi ‘Dragon Ball’.
          Pertemanan kami dimulai saat ibu-ibu kami sering berjalan-jalan di pasar kaget itu dan kami diam-diam membeli gula-gula kapas dengan uang hasil minta pada ayah. Sementara ibu kami mengobrol, kami diam-diam pergi dan membeli gula-gula kapas. Kami memakannya di tempat rahasia kami, bangku panjang bawah pohon beringin di taman kompleks. Dari bangku itu, kami dapat melihat pemandangan di bawah gunung sana yang tampak begitu luas dan tak terbatas. Bermula dari gula-gula kapas, kami mendiskusikan sekolah mana yang akan kami masuki. Kami membicarakan keinginan, harapan dan kebahagiaan dengan gaya layaknya anak-anak yang memandang dunia ini adalah hal yang indah. Biasanya kami juga ditemani satu set permanian catur dan mainan-mainan kami. Dia kadang-kadang membawa mobil-mobilan dan aku membawa boneka kelinci berbaju pink kesayanganku. Kadang Caya bermain dengan bonekaku sekaligus mobil-mobilannya. Sesekali dia membawa puzzle yang tidak bisa dipecahkannya. Kami sering bermain hujan-hujanan yang selalu berakhir dengan omelan ibu-ibu kami saat memandikan kami berdua.
          Saat dia kecil, dia tambun dan pipinya chubby. Cukup menggemaskan. Dia selalu mengejekku karena aku cadel walaupun sudah tidak bisa dibilang bayi. Ke manapun kami pergi, kami selalu berdua. Kami selalu duduk di kelas yang sama. Kami menangis bersama ketika ibu Caya meninggal karena berusaha melahirkan adiknya yang akhirnya juga menyusul ibunya. Saat itu kami berusia sepuluh tahun. Kami sudah cukup paham apa itu kehilangan.
Waktu SD, akulah yang selalu memengang peringkat yang lebih tinggi dari Caya. Namun mulai di SMP segalanya berubah, Caya selalu memengang peringkat yang lebih tinggi dariku. Tidak hanya nilai pelajaran, segalanya berubah saat kami menginjak pertengahan SMP. Kami tidak lagi berhujan-hujanan, bermain mobil-mobilan maupun boneka, dan membicarakan keinginan, harapan dan kebahagiaan dengan cara pandang anak-anak. Entah bagaimana ku sadari ternyata Caya sudah tumbuh dewasa walau kami masih sering makan gula-gula kapas bersama dan bermain catur di bangku itu.
Tubuh Caya pun berubah menjadi kurus dan lebih kekar. Pipinya tidak lagi chubby, sorot matanya berubah jadi lebih tajam, kumis tipis mulai tumbuh di atas bibirnya, dan tumbuh jakun di lehernya yang awalnya sangat mengganggu pandanganku karena tidak biasa. Caya pun lebih serius dan lebih dingin dengan teman-temannya walau dia masih sering mengejekku dan bercanda denganku.
Semakin kami tumbuh dewasa, dia semakin protektif dan selalu mengawasi gerakku. Dia beralasan karena ayah dan ibuku sudah sangat mempercayainya untuk melindungiku. Cara pandangnya terhadap kehidupan berubah. Aku bisa melihat kalau Caya merupakan seorang yang berprinsip dan punya jiwa pemimpin. Dia menjadi pengurus OSIS, pelari kebanggaan sekolah, siswa berprestasi, dan idola teman-teman perempuanku. Sementara aku? Aku hanya bisa bermain gitar dan bernyanyi. Tapi aku tidak pernah benar-benar kelihatan. Sangat kontras dengan Caya yang selalu berkilau.
          Caya punya banyak penggemar di sekolah. Aku tidak tahu kenapa ia begitu disukai oleh teman-teman perempuanku. Mereka berkata aku beruntung punya teman seperti Caya dan bisa dekat dengan Caya. Setiap hari setidaknya aku membawa sepucuk surat yang ditujukan pada Caya. Namun Caya selalu menolak untuk membalas apalagi membaca surat-surat yang dititipkan padaku itu. Akhirnya surat-surat beramplop merah jambu itu berakhir di laci meja belajarku tanpa pernah terbuka.
Aku ingat suatu hari saat kami masih kelas tiga SMP, dia bertanya padaku kenapa aku memanggilnya Caya. Lalu aku hanya menjawab dengan polos, “Karena kamu cahayaku.”
Aku tidak ingat kapan persisnya perasaanku pada Caya berubah. Dari sekedar teman masa kecil, menjadi perasaan dari seorang gadis pada seorang pemuda. Mungkin saat dia berkata bahwa dia harus melindungku karena aku adalah satu-satunya perempuan di kehidupannya sekarang. Aku sangat menyayanginya, lebih dari diriku. Melihat kenyataan bahwa dia terus berusaha meluangkan waktunya untukku walaupun dia sangat sibuk. Dia tidak pernah mengabaikanku dan dia selalu mau mendengarku. Kapan pun aku membutuhkan, dia selalu ada. Dia juga selalu memperlakukan adik-adikku dengan baik. Aku tahu kalau dia sangat mengharapkan adik, dan dia hanya bisa mendapatkan sosok itu dari adik-adik laki-lakiku yang merupakan anak kembar. Aku tidak pernah berniat untuk menyatakan perasaanku yang sesungguhnya padanya. Karena aku takut, kalau aku mengatakannya ia akan pergi. Aku takut kalau hubungan kami tidak akan pernah seperti ini lagi.
Aku hanya takut kalau semuanya berubah. Aku tidak pernah peduli betapa tersiksanya memendam rasa cinta sampai hari ini.
Hari ini begitu indah. Langit tampak sangat biru dan udara terasa sangat nyaman. Angin menyentuh ujung-ujung pepohonan dan menyebabkan bunyi gemerisik yang indah. Tapi aku bersikap seolah tidak ada apa-apa.
Sekarang aku duduk berdampingan dengannya di bangku tempat kami. Dia terus berbicara. Tentang hasil kinerjanya di OSIS atau event-event sekolah. Dia bicara tentang orang-orang yang ditemuinya di organisasi sekolah atau di tempat lain. Dia berbicara tentang keinginannya melanjutkan studi di luar kota. Dan dia berkata kalau aku dan dia harus bersama-sama. Dia berbicara tentang gadis-gadis yang terang-terangan mendekatinya. Dia berbicara seolah-olah tidak tahu kalau aku sangat ingin menyampaikan sesuatu padanya.
Aku dapat menangkap kalau dia menahan napas saat aku menyandarkan kepalaku ke bahunya. Bahu yang tempat saat aku bersandar dan menangisi kegagalanku. Bahu yang sama tempat aku menenangkan diri ketika putus atau di sakiti oleh mantan-mantan kekasihku. Tapi sedetik kemudian dia mulai berbicara lagi. Tidak mengertikah dia bahwa aku juga sangat ingin berbicara. Aku tidak tahu perasaannya padaku sebenarnya hanya sebatas teman yang harus di lindungi atau lebih. Tapi aku tahu persis arti tatapannya setiap kali aku bercerita bahwa aku sedang jatuh cinta. Cemburu.
Sekarang dia hendak bercerita tentang kenangannya akan ibunya. Aku tahu dia selalu sedih jika dia diingatkan kalau ibunya telah tiada. Caya, tolong jangan katakan hal-hal sedih itu. Aku berkata dalam hati.
“Tolong, diamlah!” aku berkata pelan saat dia selesai bercerita tentang kenangan-kenangan itu.
“Ada apa? Apa kau sedang tidak enak badan?” dia bertanya. Dia berpura-pura seolah tidak tahu kalau aku sedang gelisah. Dia kan yang paling mengerti aku… mengapa dia bisa bersikap seolah tidak tahu apa arti sikapku?
“Aku minta kau diam,” akhirnya hanya itu yang bisa aku katakan.
Air mata berkumpul di mataku. Nyaris jatuh. Lalu aku mengangkat kepalaku dan tersenyum kecil supaya air mataku tidak jatuh. Kenapa kau seperti ini? Apa yang kau katakan? Sepertinya aku memang harus menyatakannya. Dadaku sesak, dipenuhi kenyataan dan suara bahwa aku benar-benar harus mengatakan pada Caya kalau aku menyayanginya. Sudah cukup lama aku membiarkan diriku tersiksa tanpa membiarkan Caya tahu apa yang ku rasakan.
“Kalau kau mau, kau bisa berkata padaku ada apa sebenarnya,” ku dengar dia berkata. Kaulah masalahnya, kau membuatku jatuh cinta. Aku berteriak dalam hati.
Sepertinya aku memang harus mengatakannya. Kata-kata yang tidak pernah aku ucapkan padanya. Kata-kata yang selalu meluncur saat aku menangis sendirian. Kata-kata yang aku tidak tahu apa aku bisa mengucapkannya lagi. Aku menarik napas panjang. Aku melipat harga diriku dengan rapi dan membuangnya ke langit.
“Bagas,” aku memanggilnya dengan nama aslinya setelah sekian lama. Sambil menatap matanya, aku melanjutkan, “aku mencintaimu.”
Aku mengatakannya dengan mantap. Tanpa ragu. Tanpa suara bergetar. Dan aku tersenyum. Walau aku bisa merasakan air mata meluncur di pipiku.
Ku lihat  dia terkesima sesaat. Dia mematung dan tampak terkejut. Namun sesaat kemudian dia tersenyum dan meraih tanganku. Dia menggenggam jemariku seakan dia mengatakan kalau dia juga mencintaiku. Dia menatapku dengan lembut seraya tangan yang satunya terangkat. Dia menyentuh pipiku dan menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Lalu dia membisikkan kalimat itu. Kalimat yang kuucapkan saat aku tersenyum dan menangis bersamaan. “Aku juga mencintaimu.”
Aku menatap matanya, membalas genggamannya dan mengangguk seraya berkata lagi padanya, “Aku mencintaimu.”
SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar